SELAMAT DATANG kepada CALON PENGUSAHA KULINER Indonesia.... WELCOME TO YOGYAKARTA - SELAMAT DATANG di Pusat Belajar, Kursus dan Pelatihan KULINER NO.1 di Indonesia

FARAH QUINN COOKING

Friday, July 10, 2015

Modal Rp 500 Ribu, Mantan Pedagang Bakso Kini Beromzet Rp 25 Juta


Modal Rp 500 Ribu, Mantan Pedagang Bakso Kini Beromzet Rp 25 Juta




Sudah menjadi pengetahuan umum jika sebuah negara bisa unggul andaikan memiliki penduduk yang berprofesi entrepreneur atau lazin disebut wiraswasta. Berwirausaha merupakan salah satu profesi bagi sebagian orang yang notabene memiliki pemikiran yang tak buruk bahkan patut dibanggakan.

Tak hanya bagi negara, keputusan menjadi wiraswasta juga memberikan keuntungan besar bagi orang pribadi. Selain menciptakan peluang kerja baru, wirausahawan juga bisa mengantongi penghasilan dan kesuksesan sesuai yang diidamkannya.

Kesuksesan inilah yang tampaknya tengah dinikmati Riska Wahyu (28). Pilihannya menjadi wirausaha muda telah menjadikan inspirasi bagi para pekerja yang tengah memikirkan masa depannya.

Keputusan Riska menjadi pengusaha dimulai dengan mendirikan warung bakso. Sayang keberuntungan belum berpihak kepadanya. Kurangnya peminat makanan ringan di wilayah Bogor ini membuat bisnis bakso yang dirintisnya jatuh bangkrut.

"Awalnya usaha jualan bakso, bangkrut, cicilan 4 kali rumah tidak terbayar, motor ditarik, setiap hari itu sampai didatangi petugas kartu kredit dan petugas KPR," ceritanya.

Pengalaman pahit tersebut tak membuat Riska putus harapan. Kepalanya tak berhenti berpikir untuk kembali menciptakan peluang usaha baru yang menjanjikan. Seiring waktu, Riska pun berkenalan dengan bisnis pengolahan kue lapis.

Wanita asal bogor ini melalui usaha pengolahan talas bersama suaminya pada awal tahun 2011. Berlandaskan pemikiran iseng, dirinya memutuskan untuk mengolah produk hasil pertanian Bogor itu untuk memiliki nilai tambah tersendiri.

"Dulu modal awal Rp 500 ribu. Lalu memilih lapis Bogor karena Bogor itu kota pariwisata, budaya orang Indonesia kan mesti bahwa oleh-oleh, kenapa kita nggak kembangkan talas sebagai itu," ungkap Riska saat ditemui di Gedung Mandiri Learning Centre, Jakarta, seperti ditulis Selasa (14/1/2014).

Tak butuh waktu lama bagi Riska untuk memulai bisnis barunya ini. Menghabiskan masa percobaan kurang lebih selama 1 bulan, Riska sudah mampu membuat dan memasarkan hasil olahannya itu.

Untuk mengetes pasar, olahan talas yang dibuatnya dijual ke sejumlah rekan terdekat dan tetangga sebagai sasaran pemasaran. Layaknya produk percobaan, talas olahan Riska tak lantas diterima pasar. Namun berkat kritikan dan masukan dari konsumen perdananya ini, Riska bisa menjadikan olahannya lebih sempurna baik dalam hal rasa maupun kemasan.

"Trial error sekitar 1 bulan, sebenarnya tidak jadi banget, waktu itu kasih ke tetangga, tetangga nyobain, kasih masukan, jadi bisa lebih bagus," katanya.

Tak puas hanya memasarkan produk di lingkungan terdekatnya, Riska memutuskan mengikuti program Wirausaha Muda Mandiri (WMM) yang diselenggarakan Bank Mandiri pada tahun 2011. Di perusahaan pelat merah ini, Riska memperoleh fasilitas promosi, iklan di media sosial, pelatihan, hingga undangan

Dengan produk yang terus diolah ditambah pengetahuan baru dari WMM, tak butuh waktu lama bagi produk kue Lapis Sangkuriang untuk menyebar dan digandrungi konsumen di Bogor dan kota lainnya. Bahkan pada akhir 2011, Riska sudah memiliki sebuah toko di wilayah Bogor.

Saat ini, kue lapis Sangkuriang Riska sudah bisa terjual setidaknya 1.000 bungkus setiap bulannya dengan harga Rp 25 ribu per bungkus. Saking banyaknya pembeli, Riska pun harus menerapkan sistem antrean untuk para pelanggannya.
"Sekarang kalau ke toko, paling lama antrean bisa sampai 2 jam untuk beli," kata dia.

Saat ini, toko Riska memiliki jumlah pekerja setidaknya 20 orang dan kedepan diharapkan produknya akan semakin dikenal ke luar daerah sehingga mampu menambah pemasukan bagi dirinya.

Dengan hanya bermodalkan uang Rp 500 ribu, Riska kini berubah menjadi salah satu sosok wanita pengusaha sukses dengan mencetak omzet Rp 25 juta per bulannya. (Yas/Shd)

Wednesday, July 1, 2015

Ayam Desa Populer di Kota


Ayam Desa Populer di Kota

Rasanya ayam goreng racikan dalam negri kalau bersaing dengan ayam goreng impor sudah tidak jaman. Buktinya, ayam goreng desa ini, Kepopulerannya sampai ke mancanegara

Ditengah berkembangnya bisnis ayam goreng impor, seperti KFC, Texas, CFC dan McDonald, ayam goreng dengan racikan negeri ini rupanya tetap digemari.

Buktinya ayam goreng tradisional Yogyakarta yang terkenal dengan slogan "Ayam desa masuk kota" ini makin merebak dengan menambah cabang barunya. Padahal usaha ayam goreng Mbok Berek ini berawal dari sebuah warung kecil, bermodalkan satu meja dan empat kursi, yang waktu itu belum bisa dibilang restoran. "saat itu kondisi keuangan kami memang belum cukup untuk membuat satu rumah makan yang besar. apalagi usaha itu sering mengalami jatuh bangun" ungkap Ny. Ratna Juwita Umiyatsih Rejeki yang dikenal sebagai Ny. umi tentang awal usahanya.

Toh, ayam goreng olahan pewaris langsung atau cucu tunggal dari anak sulung Mbah Berek Ronopawiro, seorang pengusaha restoran ayam goreng terkenal dari yogyakarta ini, tak kehilangan penggemar penyantap ayam goreng. Pasalnya, warung kecil yang sekarang telah berkembang menjadi restoran itu, kini hampir tak pernah sepi pengunjung.

Sadar kalau usahanya ini harus mendapat hak merek, pada 1972 Ny. Umi mendaftarkan hak merk dagangnya dengan nama "Mbok Berek" ini di Departemen Kehakiman RI. Bersamaan dengan itu, dibukalah cabang baru dibilangan daerah pegangsaan timur.

Untuk menjaga kerahasiaan bumbu-bumbu dan pengolahan ayam gorengnya, Mbah Berek Ronopawiro, hanya menurunkan bumbu warisan kepada putra-putrinya saja. dan sebagai cucu tunggal bumbu warisan ini sudah pasti jatuh ketangan Ny. Umi.

Dua tahun berselang setelah cabang baru berdiri, menyusul lagi satu cabang di Jl. Tanjung Karang, kemudian berturut-turut cabang lain didaerah cikini dan Jl. Prof. Supomo yang kini telah diperluas menjadi tiga kapling.

Kini, dari kedisiplinan dan kemandirian yang diperoleh dari pengalaman, Ny. Umi menerapkannya pada anak-anaknya. "Saya mengarahkan mereka untuk dapat mandiri dan bertanggung jawab," begitu pengakuan ibu empat orang anak ini.

Meski begitu, berkembangnya rumah makan Mbok berek ini tidak lepas dari standar mutu bahan. Itu sebabnya, wanita yang pernah menjabat sebagai Bendahara II ikatan pengusaha wanita Indonesia ini, Mendirikan PT Weling Simbah Wulung, sebuah perusahaan pemasok bahan baku ayam kampung yang mendapat kuasa penuh dari Mbok Berek Ny. Umi untuk me-franchise-kan merek dagangnya.

Lalu, melihat besarnya peminat Franchise dan guna memberikan standar cita rasa khas, didirikan pula pabrik dicibitung, Jawa Barat untuk membuat bumbu-bumbu dalam bentuk padat yang siap diedarkan diseluruh restoran "Mbok Berek".

Kepopuleran ayam goreng yang berasal dari kampung ini, rupanya tak lepas dari pengamatan Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi, dan berhak mendapatkan penghargaan pada 1984. Kemudian setahun berikutnya menyusul penghargaan dari Perhimpunan Hotel dan restoran Indonesia.

Juga setidaknya, dalam waktu yang tak lama lagi telah disiapkan restoran-restoran "Mbok Berek" di Singapura, Filipina, dan Amerika Serikat. Dan meski berada jauh dari negri asal "ayam kampung masuk desa" ini, semua restoran itu didesain khas jawa, serta bumbu asli dari "Mbok Berek".

Belakangan ini, untk mengenang jasa nenek moyangnya, Ny. Umi merencanakan mendirikan sebuah museum peralatan masak kuno yang digunakan pada masa zaman Mbok Berek hingga modern. Dalam museum yang terletak di desa Candi Kalasan, Yogyakarta, tempat cikal bakal dan warung makan Mbok Berek yang pertama kali berdiri, juga akan disajikan kronologis usaha dan perkembangan usaha.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...